Cara mendidik anak menurut Rasulullah

Mendidik anak merupakan tugas utama setiap orang tua.  Untuk bisa mendidik anak dengan baik dan benar agar tidak gagal, kita perlu belajar ilmu parenting sejak dini. Sebagai seorang muslim, tentu kita perlu belajar bagaimana cara mendidik anak menurut Rasulullah. Kita perlu belajar bagaimana para nabi, rasul dan orang orang saleh mengasuh dan mendidik putra putrinya.

Dalam artikel ini penulis akan menjelaskan bagaimana Cara mendidik anak menurut Rasulullah dan orang-orang soleh yang notabene mereka adalah laki-laki yang mampu mendidik putra putrinya disamping mengemban tugas dan risalah dari Allah untuk menyeru kaumnya pada tauhid, akhlak dan budi pekerti yang mulia.

Cara mendidik anak yang baik menurut Islam

Maka Sebagai orang tua kita perlu belajar bagaimana cara mendidik anak yang baik menurut Islam. Tugas utama mendidik anak dalam Islam ada di pundak orang tua terutama ayah. Seorang ayah banyak dikenal sebagai pribadi yang tegas dan cenderung cuek. Terutama ayah biasanya lebih sibuk bekerja dan punya waktu yang sangat terbatas untuk keluarganya. Walaupun semua yang ayah lakukan adalah demi keluarganya, yaitu putra-putri dan istrinya. Sebagai seorang kepala rumah tangga, ayah perlu belajar bagaimana cara mendidik anak yang baik dan benar melalui ilmu parenting.

Dalam Al Quran ada beberapa nabi, rasul dan orang soleh yang bisa menerapkan tugas sebagai seorang ayah dengan apik dan baik. Padahal, mereka adalah sosok lelaki yang mengemban tugas mengajak umat untuk mengenal Allah dan beribadah kepadaNya. Walaupun begitu, tidak membuat para nabi dan rasul lalai dari mendidik putra putri serta istrinya dalam keluarga.

Ini adalah pelajaran berharga bagi kita sebagai umat Islam. Bagaimana kita sebagai seorang muslim bisa berperan aktif dalam rangka ikut hadir dalam pengasuhan putra putri kita.  

Ternyata kisah para nabi, rasul dan orang soleh ini ada di dalam Al Quran. Yuk, kita simak kisah para nabi dan rasul yang mendidik anak-anaknya dengan bijak dalam Al Quran:

1. Mendoakan anak dengan tulus ikhlas

Tahukah kamu bahwa mendoakan anak dengan tulus ikhlas adalah penting bagi orang tua. Salah satu contoh nabi yang berdoa untuk putranya adalah nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah seorang nabi dan rasul yang istimewa. Dalam ilmu sejarah Islam, nabi Ibrahim termasuk golongan rasul Ulul Azmi, artinya para nabi dan rasul yang Allah beri tanggung jawab dan tugas berat untuk mengajak kaumnya dari lembah sesat dan hina menuju tauhid dan akhlak.

Selain menjadi nabi dan rasul,  nabi Ibrahim juga menjadi seorang ayah dari putra-putrinya. Dalam biduk pernikahan dengan istrinya, nabi Ibrahim lama tidak Allah karuniai anak. Walaupun begitu, nabi Ibrahim tidak patah semangat dan terus berusaha serta berdoa agar Allah memberi karunia anak dalam rumah tangganya.

Allah mengabulkan doa dan permohonan Ibrahim. Allah memberi karunia Ibrahim sosok putra yang lucu, ganteng dan soleh di usia lanjut. Dia adalah Ismail. Ibrahim sangat senang dan bahagia dengan anugerah yang telah Allah berikan kepadanya berupa putra lucu dan mungil ini. Walaupun Ibrahim sudah berusia lanjut, Ibrahim tetap semangat merawat dan mengasuh putranya. Ibrahim menunjukkan perhatian yang intensif kepada Ismail, anaknya.

Salah satu bukti bahwa Ibrahim sangat perhatian kepada putranya adalah doa yang selalu dia panjatkan kepada Allah. Doa adalah harapan setiap orang tua untuk putra-putrinya, baik untuk kebaikan dunia ataupun kebaikan akhirat.

Berikut doa Nabi Ibrahim Dalam Mendidik anak anaknya:

“Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

(QS Ibrahim: 40)

Doa merupakan harapan setiap orang tua untuk putra putrinya di masa depan. Panjatan doa adalah wujud dari perhatian dan kasih sayang yang mendalam dari Ibrahim kepada putranya. Doa yang Ibrahim panjatkan kepada Allah bukan hanya untuk putranya saja tetapi juga untuk anak dari putra-putrinya bahkan untuk seluruh keturunannya yang belum lahir.

Bukan hanya itu Nabi Ibrahim Alaihissalam juga berdoa dan bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar Allah karunia putra-putri yang patuh dan taat kepada Allah.

Inilah doa nabi Ibrahim:

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan jadikanlah diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada engkau.” (QS. Al Baqarah: 218)

2. Teladan orang tua wujud kasih sayang

Setiap orang tua pasti menyayangi dan mencintai putra-putrinya. Ada banyak ragam cara yang orang tua berikan dalam rangka menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Ada orang tua yang menunjukkan cinta dan kasih dengan memenuhi segala kebutuhan anak. Mereka memberikan apa yang anak inginkan. Ada orangtua yang terlalu memenuhi keinginan anak.

Tidak ada yang salah dengan pemberian orangtua pada anak.  Tetapi jika keterlaluan dan berlebihan yang terjadi adalah anak akan menjadi manja. Disinilah orang tua perlu belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Bagaimana orang tua bisa memenuhi kebutuhan anak dan tidak harus memenuhi semua keinginan anak.

Maka Salah satu cara mendidik anak menurut Rasulullah adalah dengan memberi teladan nyata dan kasih sayang pada anak-anak kita. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan teladan nyata bagi kita umatnya. Beliau menunjukkan rasa kasih sayang kepada putra putrinya. Bahkan beliau menunjukkan cinta kasih sayang kepada sesama manusia. Allah menyebut kasih sayang beliau sebagai rahmat bagi alam semesta. Salah satu teladan nyata dari beliau adalah beliau selalu menunjukkan rasa hormat dan cinta kasih kepada putri beliau, Fatimah. Begitu besar rasa cinta dan kasih sayang sang nabi kepada putrinya, Fatimah. Sehingga Fatimah terinspirasi dan tanpa sadar mampu menirukan tindakan sang ayah dalam menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang kepada sesame manusia.

Dalam kitab Adabul Mufrad disebutkan bahwa “Saya tidak melihat orang yang lebih mirip Rasulullah Shalallahu Wassalam dalam pembicaraan selain Fatimah. Ketika dia datang kepadanya, dia berdiri untuk menyambutnya, menciumnya dan menyuruhnya duduk di tempatnya. Ketika nabi datang kepadanya, dia berdiri untuknya meraih tangannya, menyambutnya, mencium dan menyuruhnya duduk di tempatnya. Dia datang kepadanya selama penyakit terakhirnya dan dia menyapa serta menciumnya (Al Adabul Mufrad, hadist ke 971)

3. Membangun komunikasi yang intensif dengan anak

Hal terpenting yang perlu orang tua bangun dengan putra-putrinya adalah komunikasi. komunikasi adalah jembatan emas untuk membangun hubungan emosinal yang harmonis dan selaras antara anak dan orang tua.

Salah satu contoh nyata hubungan harmonis orang tua-anak yang baik adalah nabi Yaqub Alaihissalam. Nabi Yakub Alaihissalam memiliki 12 putra. Anak paling muda adalah Nabi Yusuf Alaihissalam. Hubungan komunikasi yang terjalin antara Nabi Yakub dengan putranya, Yusuf tumbuh dalam suasana yang harmonis, ideal dan selaras.

Karena hubungan emosional inilah, Allah mengaruniakan mimpi kepada Yusuf yang terdapat dalam Al Quran:

“Dan ingatlah ketika Yusuf berkata pada ayahnya “Wahai ayahku, sungguh aku (bermimpi) melihat 11 bintang, matahari dan rembulan. Kulihat semua bersujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)

Nabi Yakub melihat mimpi Yusuf bukan mimpi biasa dan sembarangan.  Tapi ini adalah sebuah mimpi yang menujukkan isyarat dari Allah untuk Yusuf bahwa dia akan menjadi orang besar. Yakub memberi isyarat kepada Yusuf agar tidak menceritakan mimpi yang dia alami kepada siapapun termasuk pada saudaranya.

Ungkapan yakub  ini terkandung dalam Al Quran sebagai berikut:

“…. (Ayahnya berkata) “Hai putraku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudaramu, maka mereka akan membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf: 5)

4. Memberi nasehat yang baik kepada anak

Luqmanul hakin adalah sosok ayah yang sangat bijaksana terhadap putra putrinya. Sehingga sosok luqman hakim ini Allah abadikan dalam Al Quran untuk memberikan pelajaran berharga bagi kita.

Luqman mengajarkan kepada putranya nilai iman dan kejujuran sejak dini. Kisah ini Allah abadikan dalam Al Quran sebagai berikut:

“Luqman (berkata kepada putranya). Wahai putraku, sesungguhnya jika ada (sesuatu kebaikan) seberat biji jarrah (biji sawi) dan ada dalam sebuah batu atau ada di langit atau ada dalam bumi, nsicaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah maka lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16)

Dalam ayat ini kita bisa mengambil banyak pelajaran berharga dari kisah Luqman dan putranya.

Pertama, Luqman memanggil putranya dengan panggilan yang manis dan indah. Wahai putraku. Sebuah panggilan yang manis dan indah untuk didengar oleh siapapun.

Kedua, Luqman, mendidik putranya untuk bertauhid kepada Allah sejak dini. Luqman menanamkan rasa takut dan kejujuran melalui kalimat yang sederhana. Sebuah kalimat yang mudah anak cerna dan pahami.

Luqman juga mengajarkan kepada putranya untuk hadir di muka bumi sebagai manusia yang rendah hati dan menjaga hubungan baik denga sasama manusia. Allah menjelaskan dalam Al Quran sebagai berikut:

“Dan janganlakah engkau memalingkan wajahmu dari manusia. (karena sombong) dan jangan pernah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya, Allah tidak suka orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Kisah-kisah para nabi dan rasul serta orang orang saleh yang penulis sebutkan diatas menunjukkan bahwa mendidik anak adalah sesuatu yang sangat penting. Oleh sebab itu Medidik anak bukan hanya tanggung jawab seorang ibu seperti yang kita pahami selama ini tetapi mendidik dan mengasuh anak adalah tanggung jawab seorang ayah.

Maka Tanggung jawab seorang ayah bukan hanya bagaimana memenuhi materi dan kecukupan keluarga tapi lebih dari itu, seorang ayah perlu hadir untuk mewarisi karakter para nabi dan rasul dalam rangka mengasuh dan mendidik putra putrinya serta mengantar mereka menjadi pribadi yang soleh, santun dan berkarakter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 3 =